Minggu, 16 Maret 2014

Inspirasi dari MD "pemburu nilai dari Sungai Manau" >untuk Thoi



Jika Anda sedang kesulitan cari judul skripsi atau thesis plus... judul penelitian Anda ditolak oleh dosen atau ketua jurusan... Anda bisa pergi ke Perpustakaan dan bolak-balik buku yang tebalnya "wuahhh". Anda beruntung kalo punya sobat yang mau diajak ngobrol... minimal buat curhat mengurangi beban psikis. 
Kalo saya sih nyaranin pertama buka situs-situs dari orang-orang yang "baik hati" sperti : http://diskusiskripsi.com/1500.php atau http://skripsijudul.blogspot.com.
...memang kalo lagi kalut dan galau kadang fikiran kita "terhijab" oleh karena itu perlu kita mendengar sobats yg bisa dipercaya.  Berikut bisa jadi "pemancing" ide bagi Anda untuk "merancang" usulan judul skripsi:

  1. Tinjauan Hukum Islam terhadap Daluwarsa Barang Gadai di Perum Pegadaian Cabang Lempuyangan Yogyakarta
  2. Tinjauan operasional Pegadaian Syariah di ......
  3. Tinjauan Hukum Islam tentang Pencabutan Kredit Barang-Barang Elektronik  (Studi Kasus di Koperasi Bhakti Mandiri Desa Kediri)
  4. Tinjauan hukum islam terhadap Pelaku Kredit Usaha Mikro di Perum Pegadaian Cabang Ngupasan Yogyakarta
  5. Tinjauan Hukum Islam terhadap Sistem Kewarisan Adat Desa Gunung Sugih Besar Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur
  6. Zakat Usaha Transportasi (Tinjauan Hukum Islam terhadap Pelaksanaan Zakat di PT. ....
 Semoga memberi inspirasi.  Jika belum ketemu juga....mari kita ketemu di Perpustakaan!


Jumat, 14 Februari 2014

TUHAN TIDAK MENCIPTAKAN KITA SEBAGAI ROBOT...

Anda mungkin tau bahwa "mahluk" yang namanya robot diprogram untuk memilih satu dari dua atau beberapa pilihan yang jelas. Jika A maka P; jika B maka Q; jika A+B maka R, jika B+A maka S, jika A+A maka T... (...utk urusan program robot nih yang jago anak saya yg di Telkom Bandung, semoga dia baca tulisan ini).
Tuhan ketika memberi pilihan kepada kita umumnya (kita memahaminya) tidak jelas sperti begitu.  Misalnya ketika kita sariawan dan perlu makan buah maka Tuhan membimbing kita ke pasar buah atau cafe juice, lalu di sana banyak pilihan buah. Ada jambu biji kesukaan kita tapi kayanya berkulit keriput yang menandakan jambu tsb sudah beberapa hari nongkrong di situ.  Ada apel yg kita suka, tapi nampak bintik-bintik spertinya bekas gigitan ulat, tapi murah dibanding anggur, tapi kalo di dalam apel itu ada ulat tertelan gimana??
:-)
Nah... untungnya kecerdasan kita lebih lengkap dibanding robot.  IQ - EQ - SQ - dst.
Singkat cerita > Bagi mahasiswa yg kebetulan punya aktifitas lain berbarengan dengan kuliah (seperti bisnis ala kampus atau kuliah di tempat lain, atau bahkan mau ikut SBMPTN lagi..) maka Anda perlu mengoptimalkan kecerdasan Anda.  Sekaligus "mengendalikan" kecerdasan tersebut dalam membagi waktu dan energi yang Anda punya.
Pilihannya banyak tersedia, misalnya:
1. Anda bisa nitip absen ke teman atau Isi absen sejenak kemudian keluar kelas untuk cari ruang yang lebih nyaman untuk ngerjakan tugas.
2. Tugas dari dosen bisa dibikin kolektif (ini beda dengan nyontek lhoo..), misalnya untuk bikin tugas kita punya kesepakatan dg beberapa teman dlm grup kita. Temen kita si A tugasnya bikin PR dosen O, artinya dia bikin sebagian besar PR itu lalu kita tinggal copy dan edit sdikit -yg mudah GANTI FONT aja atau SUSUNAN KALIMAT/ PARAGRAF- Tentu aja kita perlu ngasi kontribusi berupa gorengan, minuman atau mgk berupa jasa lain.  Kualitas hasil kerja PR itu ya.. dimaklumi aja.  Yang penting bisnis atau pelajaran lain tetap tergarap.
3. Sebagai imbalan (dan ini syarat juga...) Anda hrs juga berbaik hati, misalnya menjelang ujian /Quis >>Anda boleh "mengobral" kunci-kunci / jawaban soal kepada temen-temen grup sbg bentuk balas jasa atau "barter" jasa.  Bahkan Anda bisa jamin "you ga usah belajar, biar gw yg belajar! Ntar gw kasi oretannya" (bgitu kurang lebih..)
4. Kayanya anak saya yang masih mahasiswa atau baru wisuda punya banyak trik. Nanti saya sambung lagi tulisan ini.

"PERTUMBUHAN" MANUSIA


Manusia memang mahluk yang lemah. Fisik/jasmani mgk tidak perlu cerita dulu, yg aspek psikis atau rohani bisa kita fahami dr fenomena mudahnya manusia berubah dari benci menjadi suka, atau sebaliknya dari mengidamkan suatu hal >jadi mengidamkan sesuatu lain yg "bertentangan" dg hal tsb.
Manusia juga tumbuh fisiknya; kecil merayap menjadi besar. Kurus mengembang menjadi gemuk.
Rohani manusia juga tumbuh bertahap, tahap#1 > #2 > #3 > dst.  Menurut data empiris (..teorinya banyak juga!! dlm konteks pendidikan; maaf blm sempat dicari) Tiap tahap umumnya tidak konsisten, sesuai perkembangan banyak aspek.  Contoh yg "agak konsisten" sudah banyak kita dengar cerita semisal orang yg sejak remaja bercita-cita menjadi pilot, lalu dalam perkembangannya bercita-cita jadi pengusaha yg memiliki pesawat terbang.  Atau remaja yg bercita-cita jadi guru kemudian setelah berlalu masa ternyata jadi pengusaha pemilik Yayasan Sekolah lebih diidamkan, selanjutnya menjadi seorang tokoh pendidikan (misalnya jadi anggota dewan yg mengurus pendidikan di level negara....atau menulis buku ttg Pembinaan Anak Bangsa  dst) lebih diidamkan.
Jika seorang remaja bercita-cita mau jadi programmer komputer... itu wajar saja, asalkan cita-cita itu nanti berkembang menjadi "developer" software kelas apple lalu selanjutnya berkembang menjadi cita-cita ingin punya perusahaan se-jenis Microsoft. 
Coba perhatikan kata yg digaris bawahi>> asalkan itu menjadi kunci bahwa cita-cita itu WAJAR. Jadi kalau ada remaja yg bercita-cita ingin jadi programmer..lalu dia fanatik "poko-nya aku mau jadi programmer!! tidak mau jadi developer! Apalagi jadi pengusaha software..aku ngga mau!!!"... Nah itu menandakan remaja tsb masih terkungkung oleh "ketidak-dewasa-an"-nya.
..Oya.. tulisan di hari sabtu ini memang diharapkan akan dibaca oleh salah satu putra terbaik kami, yang kalo ngga salah berniat jadi programmer!! Semoga dia sempat baca.
....Cerita ttg ketidak-konsistenan kebetulan saya yg mengalami.  Lulus SMA saya diterima di IPB tanpa test, saya bercita-cita jadi pengusaha sukses, makanya saya bberapa bulan kemudian ikut Resimen Mahasiswa karena seorang pengusaha (saat itu zaman ORBA..banyak pengusaha berlatar ABRI) harus tegas, berani dan disiplin...Namun selepas IPB saya berpendapat lain (padahal saat itu jiwa prajurit masih kental..) : Seorang yg berbakti bagi nusa bangsa lebih mulia, ..apalagi kalo dibayar maka kewajiban mencari nafkah tidak perlu dilakukan terpisah...>>maka jadilah saya PNS.
Masih tentang "musibah" ketidak-konsistenan yg saya alami: tahun 1990 [masih dalam semangat jadi pengusaha] saya masuk tim peneliti yg meneliti Ikan Betutu (saat itu trmasuk ikan yg sangat mahal..) jadi nanti saya mau jadi Pengusaha Ikan Betutu. Rupanya kerja di pembenihan membutuhkan ketelatenan yg super; kerja kimia di laboratorium, mengamati larva di mikroskop berjam-jam dsb dsb. Saya sangat lemah dlm aspek yg satu itu. Sampai-sampai saya bertekad SEUMUR HIDUP TIDAK AKAN MAU KERJA DI LABOR!! tahun 1991 wisuda, lalu, karena tidak mampu kuliah S-1 lagi di Fak. ekonomi maka saya kerja sebagai INSINYUR di konstruksi yang notabene jauh dr kerja telaten.. uff...tahun 1993 saya diangkat PNS dan ditugaskan di Unit Pembenihan... Astagfirullaah.. ternyata!! Ternyata kerja di labor sbg peneliti banyak menjanjikan! karena masih jarang org yg suka meneliti... maka jadilah saya salah satu jagoan di pembenihan ikan secara artifisial.
:-)
Satu lagi>> Sejak SMA saya orang exact. Saya paling benci dg cara fikir SOSIAL yg ngga jelas, tidak berdasarkan data dan "ngambang".. JIwa exact itu terbawa dan menjadi "fanatik agama exact". Namun... tahun 1998 saya baru menyadari bahwa masalah-masalah masyarakat tidak dapat selesai dengan ilmu exact. Dunia ternyata tidak sekaku rumus-rumus.
...makanya tahun 2001 saya ambil S-2 di luar jalur exact; saya ambil Sosiologi Pedesaan (mata kuliah yang paling amat sangat saya benci saat S-1 dulu).
.........begitulah .
ternyata saya nyaman, sangat nyaman dengan basic keilmuan yang "penuh warna" tersebut.  Bicara exact okeh, sosial payoo, agama insya Allaah!.
Barangkali kalo mau diambil pelajaran, salah satunya atau mgk "dua"nya adalah > (1) Harus sadar bahwa kita terus berkembang. Menurut ajaran Islam kemantapan seseorang itu baru tercapai di umur 40 tahun.  Jika Anda belum berumur 40 tahun, jangan terlalu percaya bahwa Anda benar dg pendapat/ pemikiran Anda. (2) semua ilmu dan aktifitas semasa remaja yang kelihatannya TIDAK BERMANFAAT atau KAGAK NYAMBUNG dgn cita-cita Anda.. maka AMBIL saja! Saya yakin Pasti itu akan bermanfaat di rentang hidup Anda yang sangat amat berharga....

Selasa, 26 November 2013

OPTIMISME

OPTIMISME
Jilbab; trendi bagi Bunda dan Cantik

Apakah Anda pernah cermati fenomena jilbab?

Saya serta beberapa sahabat merupakan sebagian "pelaku sejarah" yang mengalami sendiri thn 1984-an ditekan oleh Dewan Guru akibat membela siswi SMA pake jilbab di sekolah. Sekitar tahun itu mahasiswi IPB dan orang-orang yang pake jilbab dicitrakan buruk oleh media, siswi-siswi SMA dilarang pake jilbab. Kemudian ada kasus biskuit beracun, lalu ada kasus (=kejadian yg dipublikasi di media massa) wanita berjilbab memasukkan racun ke sumur. Saya yakin sebagian sobat-sobat masih ingat.

Saat ini kita bisa perhatikan sejak tahun 2005-an; bagaimana para wanita muslim, gadis maupun pasca-gadis berpakaian jilbab walau hanya sekedar di luar rumah.. bahkan anak-anak SD! Para selebritis di TV, penjual jamu gendong hingga pemulung. Sangat terasa kesan bahwa jilbab adalah “pakaian resmi” atau “pakaian standar” bagi wanita muslim untuk memasuki ruang publik.

Minggu ini kita bisa baca Polwan dibolehkan berseragam jilbab di Jakarta, Surabaya, dan kota lain; menyusul di NAD yang lebih awal lagi.

Sepatutnya kita bisa mengambil ibroh dari "Kisah Jilbab" rentang 1985-2013 ini. Kita mendapat pelajaran bagi optimisme menerapkan syariat Islam.

Sosialisasi dan penyerapan (!) gagasan jilbab itu HANYA perlu waktu 20 tahun lebih dan ternyata berhasil.

...Penerapan syariat Islam diyakini kurang lebih demikian. Sederhananya barangkali hanya dibutuhkan 3 prasyarat:

1) Keyakinan akan kebenaran syariat yang diarahkan dalam AlQur'an, didetilkan melalui hadis-hadis selanjutnya ijma ulama.

2) Perangkat legislasi yang bersesuaian dengan arah syariat Islam (dalam bentuk perda, perpu atau Undang-undang) produk DPRD/DPR dan pemerintah. [diyakini akan "sedikit" karena sebagian syariat Islam sudah memasyarakat dalam hidup sehari-hari tanpa adanya legislasi]

3) Kesadaran masyarakat untuk mematuhi legislasi tersebut

...waLLAAHu a'lam

Sabtu, 14 September 2013

Memperingati 100 hari Kepergian Mamih kami Tercinta


Ibu.....
Dahulu hari-hari kita lewati bersama
Dalam suka duka engkau membesarkanku
Mendidikku walau tanpa kehadiran ayah
Itu semua kini menjadi kenangan indah bagiku....

Ibu.....
Maafkan kami yang terlalu sibuk dengan irama hidup kami sendiri
Disaat engkau masih membutuhkan kehadiranku di sisimu
Walau kami tiada berniat menyisihkanmu,
namun kelalaian itu kini menjadi penyesalan bagi kami.
Andai saja waktu bisa berulang,
niscaya keteledoran kami takkan terulang

Ibu.......
Engkau kini telah pergi meninggalkan kami....
Menyusul ayah  yang telah mendahului
Bait-bait doa senantiasa kami persembahkan untukmu.
kiranya Allaah Yang Maha Pengampun memaafkan segala khilaf dan salahmu
kiranya Tuhan Yang Maha Rahman memuliakanmu di sisi-Nya
Doa demi doa slalu tercurah untukmu, disela tangisan dan zikir kami.
Jariah demi jariah diniatkan bagimu, disela keluangan dan kesempitan kami.

Saat rindu mengiris hati kami,
kini kami hanya dapat mengusap pusaramu dengan air mata,
walau kami sadar tak mungkin dapat mengulang waktu.

Waktu yang indah saat-saat bersamamu kini berlalu.
untuk melengkapi  keindahan mengasuh cucu-cucumu.
Semoga mereka dapat mewarisi sifat-sifat baik darimu.
Semoga cucu-cucumu mampu menirumu..
dalam berkorbanan bagi masyarakat dan kedermawanan bagi mereka yang lemah
Dalam ketegasan membela yang benar
dan kelembutan dalam amar ma’ruf nahi munkar
Dalam kesabaran menanggung derita
dan kerendahan hati menerima nikmat Sang Maha Pencipta.
Yaa Tuhan kami
Ampunilah dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami
Kasihilah mereka, sebagaimana mereka mengasihi di masa kecil kami


Jambi, akhir2013.